Seminar Nasional Pasar Modal Syariah

Pemberian Cindramata Kepada Narasumber dari MUI Malang Bapak Drs. KH. Chamzawi M.HI.

Kuliah Tamu Manajemen

Bersama pimpinan manajemen dan pemateri kuliah tamu dengan tema menumbuhkan jiwa wirausaha yang kreatif, inovatif dan mandiri.

Ekonomi Kreatif

Narasumber dalam rangka Turba PCNU Kota Malang Tematik terkait ekonomi kreatif di MWC NU Lowokwaru Ranting Dinoyo

Seminar Nasional

Narasumber Seminar Nasional Economic Outlook, Prospects And Future Of The Indonesian Economy,(Bersama Ketua Komisi C DPRD tk 1 Jatim)di FE UNUSIDA Sidoarjo.

Penyuluhan UMKM

Narasumber Penyuluhan terkait administrasi sederhana UMKM di Desa Sutojayan Kabupaten Malang.

Senin, 05 Juli 2021

Analysis of the Impact of Financial Knowledge, Financial Attitudes and Personality on Financial Management Behaviors in Creative Industries

Analysis of the Impact of Financial Knowledge, Financial Attitudes and Personality on Financial Management Behaviors in Creative Industries

Muhammad Sulhan, Muhammad Nanang Choiruddin

Abstract
 
The creative industry in Indonesia currently has a positive contribution to the economy in Indonesia and is one of the driving forces for economic growth in Indonesia. The problem that often occurs in creative industries is their financial management behavior which is related to the lack of financial knowledge, financial attitudes and personality of creative industry players. The purpose of this study was to analyze the Financial Management Behavior of creative industry players in Malang Raya by relating the problems of financial knowledge, financial attitudes, and personality of the creative industry players. This type of research is descriptive quantitative with research subjects are creative industry players in Malang Raya with a sample of 60 creative industries. The method of data collection was done by interviewing, distributing questionnaires and documentation. Data analysis in this study was carried out with the help of Smart PLS3 software by testing the outer model and inner model, after tabulating the data with the Excell software. The results of this study indicate that the financial management behavior of creative industry players in Malang Raya is quite good, only in the preparation of financial reports there are still many who have not done it. Meanwhile, financial knowledge, financial attitudes, and personality of creative industry players in Malang Raya are good. Other results of this study indicate that the financial attitudes and personality of creative industry players in Malang Raya have a significant positive influence on their financial management behavior. Meanwhile, the financial knowledge of creative industry players in Malang Raya does not have a significant influence on their financial management behavior. The variable that most dominantly influences the financial management behavior in creative industry players in Malang Raya is the personality variable of the creative industry players. These results indicate that the personality aspect is the dominant factor affecting the success of creative industry players in their financial management behavior.

Keywords: financial knowledge, financial attitudes, creative industries

DOI : https://doi.org/10.2991/assehr.k.210421.081
Sumber : https://www.atlantis-press.com/proceedings/iconetos-20/125955716

 

Jumat, 02 Juli 2021

Biografi KH. Abdul Wahab Hasbullah

Biografi KH. Abdul Wahab Hasbullah

Kyai yang satu ini adalah sosok kyai sejati yang selalu mengayomi dan memberikan kesejukan kepada umat. Kearifan, pengetahuan dan pengalaman hidupnya menjadikannya sebagai sosok yang sangat disegani dan dihormati oleh rakyat Indonesia, khususnya kalangan umat Islam terlebih kalangan warga nahdhiyin. Beliau telah mengukir sejarah yang gemilang dalam meletakkan prinsip-prinsip agama dan kehidupan sebagai kunci dan pegangan hidup bermasyarakat dan bernegara. Berbagai macam prestasi perjuangannya telah diraihnya dengan cemerlang. Perannya di semua lini kehidupan, politik, budaya, agama menjadikannya sebagai kyai multikultural yang menjadi tokoh simbol perjuangan anak bangsa.

Riwayat Hidup dan Keluarga

Pemikiran-pemikirannya selalu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan solusi dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan, baik persoalan keagamaan maupun kebangsaan. Pengalaman hidupnya di tiga zaman telah membentuk pribadi yang arif dan bijaksana. Beliau lahir pada bulan Maret 1888 M. dari pasangan Kyai Chasbullah dan Nyai Lathifah di Tambakberas Jombang. Keluarga Chasbullah, pengasuh pondok Tambakberas ini masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan ulama paling masyhur di awal abad ke-20 yang juga berasal dari Jombang, yaitu KH Hasyim Asy’ari.

Silsilah Nasab

Nasab KH Hasyim Asy’ari dan Kyai Chasbullah bertemu dalam satu keturunan dengan KH. Abdussalam. Jika diurut ke atas, nasab keluarga ini akan bermuara pada Lembu Peteng, salah seorang raja di Majapahit.

Wafat

Wafatnya KH. Wahab Chasbullah Sebelum wafat KH. Wahab masih sempat menghadiri Muktamar NU ke-25 di Surabaya dan terpilih sebagai Ro’is ‘Am PBNU. Pun juga masih bisa memberikan suaranya bagi partai NU dalam pemilu tahun 1971. Menurutnya menghadiri Muktamar NU dan memberikan suara pada pemilu adalah bagian dari salah satu perjuangan, karena perjuangan adalah bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan. Tetapi empat hari setelah Muktamar NU di Surabaya, kyai yang banyak berjasa terhadap bangsa ini dipanggil kehadirat Allah swt. Beliau wafat pada 29 Desember 1971 di kediamannya yang sederhana di kompleks pesantren Tambakberas, Jombang.

Pendidikan

Sejak kecil beliau dididik secara langsung oleh ayahnya. Beliau diajari pendidikan agama, seperti membaca al-Qur’an, tasawuf, dsb. Setelah dipandang cukup, KH. Wahab berkelana ke berbagai pesantren untuk berguru, di antaranya di Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Pesantren Mojosari-Nganjuk di bawah bimbingan Kyai Sholeh, Pesantren Tawangsari-Surabaya, dan Pesantren Bangkalan-Madura di bawah bimbingan langsung KH Cholil Bangkalan yang masyhur itu. Oleh Kyai Kholil, Kyai Wahab disuruh berguru di Pesantren Tebuireng, Jombang. Di berbagai pesantren inilah KH. Wahab menimba pengetahuan dan pengalaman. Beliau mempelajari kitab-kitab penting keagamaan sampai mahir.

Pada usia 27 tahun KH. Wahab meneruskan pendidikannya ke Makkah. Di kota suci itu beliau berguru kepada ulama terkenal diantaranya KH. Machfudz Termas, KH. Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Chotib Minangkabau, KH. Bakir Yogyakarta, KH. Asya’ri Bawean, Syekh Said al-Yamani dan Syekh Umar Bajened. Semua itu menambah lengkapnya wawasan sosial dan pengetahuan keagamaan KH. Wahab. Melihat riwayat pendidikannya, tidak heran jika di kalangan ulama dan para pejuang sebayanya, KH. Wahab tampak paling menonjol di segi wawasan pemikiran dan pengetahuannya. Seperti kebiasaan pola hidup di pesantren, KH. Wahab pun hidup dengan sangat sederhana. Untuk memenuhi nafkah keluarganya, KH. Wahab berdagang apa saja yang penting halal. Di antaranya beliau pernah berdagang nila dan pernah menjadi perwakilan sebuah biro perjalanan haji. Karena banyaknya bidang usaha yang digeluti, beliau mempercayakan pengelolalaan usahanya kepada orang lain dengan cara bagi hasil. KH. Wahab selalu dilukiskan sebagai orang yang energik, penuh semangat, ramah dan berwibawa.

Silsilah Keilmuan
  • KH Hasyim Asy’ari
  • Syekh Mahfudz At-Tarmasi
  • KH. Muhtarom Banyumas
  • Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
  • KH Bakir Yogyakarta
  • KH Asya’ri Bawean
  • Syekh Said al-Yamani
  • Syekh Umar Bajened

Jasa dan Karya Beliau 

Pendirian NU

Pancaran sinar wajahnya menyimpan aura kelembutan dan kasih sayang. Selain pemurah kyai yang satu ini sulit untuk marah dan dendam. “Meskipun orangnya kecil, beliau tampak selalu bersikap gagah,” kata KH Saifuddin Zuhri, salah seorang pengagumnya. Selanjutnya KH. Saifuddin Zuhri juga melukiskan bahwa KH. Wahab adalah ulama yang mempunyai pengetahuan sangat luas, tidak terbatas pada bidang agama saja. Orang yang pernah dekat dengannya tidak pernah jemu mendengarkan uraian kata-katanya yang serba baru dan selalu mengandung nilai-nilai kebenaran. KH. Wahab bukan termasuk golongan ulama “klise”. Tindak tanduk dan tutur katanya selalu orisinal yang keluar dari perbendaharaan ilmu dan pengalamannya. Beliau tidak pernah merasa canggung saat berbicara di muka ribuan manusia. Beliau tidak bangga bila berbicara di hadapan orang banyak, begitu juga tidak pernah kecewa bila yang mengerumuni sedikit orangnya. Selain karena kecerdasan otaknya, retorika penyampaiannya juga menarik sehingga setiap uraian kata-katanya dapat didengar dan dicerna dengan baik dan tidak membosankan.

Bagi warga NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Wahab tidak sekadar tokoh dan pendiri, melainkan juga sebagai simbol pemersatu, yang menarik juga adalah tradisi intelektualnya di kalangan ulama pesantren. Diceritakan bahwa KH. Wahab mendirikan, memelihara dan membesarkan NU dengan ilmunya, baru kemudian dengan harta dan tenaganya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika orang menyebut KH. Wahab adalah ruh sekaligus motor penggerak NU, sejak NU berwujud kelompok kecil yang tidak diperhitungkan sampai menjadi jam’iyah Islam terbesar di Indonesia. Agak sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok KH. Wahab Chasbullah.

Meminjam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Wahab dijuluki sebagai “kyai merdeka”. Sepanjang sejarah perjuangannya, kyai dari Jombang ini memang berjiwa bebas, berpendirian merdeka, tidak mudah terpengaruh lingkungan sekeliling. “Bukan “pak turut” (selalu ikut-ikutan)”, istilah KH. Saifuddin Zuhri. Bahkan sampai cara berbicara, berjalan dan berpakaian pun beliau tidak meniru orang lain. Kyai nyentrik ini mempunyai ciri khas dalam berpakaian, selalu memakai surban. Hingga suatu ketika menurut cerita KH. Saifudin Zuhri saat KH. Wahab berbicara dalam sidang parlemen sebelum naik ke podium beliau terlebih dahulu membetulkan letak serbannya. Pada saat itu ada orang nyeletuk, “Tanpa serban kenapa sih?”. Sambil menunjuk serbannya, KH. Wahab kontan menjawab, “Ini Serban pangeran Diponegoro!, beliau, Kiai Mojo, Imam Bonjol, Teuku Umar semuanya pakai serban”.

Mendengar perkataannya seluruh peserta sidang tertawa semuanya sehingga ruangan sidang dipenuhi gelak tawa anggota parlemen. Kiai Penuh Prestasi Prestasi-Prestasi KH. Wahab Chasbullah sangat banyak sekali. Seperti mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar tahun 1914, mendirikan pergerakan Nahdlatul Wathan dan Syubbanul Wathan bersama KH. Mas Mansur, memprakarsai pembentukan Komite Hijaz, memprakarsai berdirinya NU. Di bidang jurnalistik, dia merintis majalah Suara Nahdhatul Ulama yang terbit setengah bulan sekali. Beliau memandang, bahwa dengan majalah gagasan-gagasan NU dapat tersebar secara lebih efektif dan efisien.

Pejuang Kemerdekaan

Sebelumnya gagasan NU hanya dijalankan melalui dakwah dari panggung ke panggung dan pengajaran di pesantren. Selain itu beliau bersama dengan tokoh NU lainnya membeli gedung di Jalan Sasak 23 Surabaya sebagai pusat aktivitas NU. Berangkat dari gagasn KH. Wahab di bidang jurnalistik ini kemudian menyusul terbitnya majalah-malajah lain, seperti Suluh Nahdlatul Ulama dipimpin Umar Burhan, Terompet Ansor dipimpin Tamyiz Khudlory dan majalah Penggugah yang berbahasa Jawa dipimpin oleh K. Raden Iskandar yang kemudian digantikan Saifuddin Zuhri. Dari tradisi jurnalistik ini, NU pernah mempunyai jurnalis-jurnalis ternama seperti Asa Bafaqih, Saifuddin Zuhri dan Mahbub Junaidi. KH. Wahab juga dikenal sebagai pengatur strategi perjuangan yang baik dalam kancah politik Islam. Beberapa prestasinya adalah seperti pembentukan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan Masyumi.

Lewat pergerakan inilah KH. Wahab terlibat dengan tokoh-tokoh terkemuka, seperti K. Mas Mansur, Dr. Sukiman, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Sartono, Sukarjo Wiryopranoto, Amir Syarifuddin, dsb. Tidak salah lagi, jika KH. Wahab dikategorikan salah seorang yang mempunyai andil terbesar dalam meletakkan dasar-dasar organisasi NU. Hampir di semua sektor beliau menggagas ide-ide yang cemerlang untuk perkembangan NU mulai dari tradisi intelektual, jurnalistik, peletak dasar struktur Syuriah dan Tanfidziyah NU, sampai siasat bertempur di medan laga. Karena beliau mempunyai prinsip, “kalau kita mau keras harus punya keris.” Artinya kalau ingin besar seseorang harus mempunyai kekuatan, baik kekuatan politik, militer maupun batin. Selain prestasi-prestasi yang tersebut di atas perlu dicatat juga dalam diri KH. Wahab adalah keaktifannya dalam gerakan-gerakan melawan penjajah untuk membebaskan negara ini dari kungkungan penjajajah seperti dibuktikannya dalam Laskar Hizbullah pimpinan KH. Zainal Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan KH. Masykur dan Barisan Kyai pimpinan beliau sendiri untuk berperang melawan penjajah.

Komite Hijaz sebagai Benteng Islam Aswaja

Prestasi gemilang lainnya adalah keberhasilannya memperjuangkan kepentingan kaum sunni untuk mendapat perlindungan dan kebebasan di negara Arab Saudi dalam Kongres Dunia Islam di Mekkah. Pada saat itu Raja Saud Arab Saudi melarang berkembangnya faham sunni di negara kekuasaannya. Akan tetapi karena usulan KH. Wahab beserta tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Komite Hijaz, diantaranya KH Bisri Syansuri, K. Ridwan Semarang, KH Raden Asnawi Kudus, K. Nawawi Pasuruan, K. Nachrowi Malang dan K. Alwi Abdul Aziz Surabaya akhirnya Raja Saud membebaskan faham sunni hidup dan berkembang di Mekkah.

Dalam khutbah iftitah terakhir sebagai Rois ‘Am, KH. Wahab mengharapkan supaya NU tetap menemukan arah jalannya dengan selalu menyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah swt. sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan melalui cara-cara yang sesuai dengan akhlak Ahlussunnah wal- Jama’ah. Beliau juga mengingatkan agar kaum Nahdliyin kembali pada jiwa Nahdlatul Ulama tahun 1926 atau lebih dikenal dengan khittah NU 1926. Demikianlah sosok KH. Wahab Chasbullah, kyai yang diberkati memperoleh kesempatan hidup dalam tiga zaman, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan (orde lama) dan zaman pembangunan (Orde Baru). Maka tak heran jika pengalaman dan sejarah hidupnya selalu dikenang sepanjang masa karena jasanya yang tidak sedikit. Dan masih banyak teladan yang ditinggalkannya untuk dijadikan ibrah bagi generasi penerusnya. Semoga kita bisa meniru dan meneruskan perjuangan-perjuangannya, amiin….

Sumber: almihrab.com 

Pelopor Kebebasan Berpikir


KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.

Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.

Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, Kyai Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kyai Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), Kyai Alwi Abdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil (Kasingan Rembang). Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpentingnya kepada kaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.

Pernah suatu ketika Kyai Wahab didatangi seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya, karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung sapi”, seru kyai Wahab.

Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kyai Wahab menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih sendiri.

Sumber : https://www.pcnutulungagung.or.id

 

Kamis, 01 Juli 2021

Analisis Pengaruh Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kapitalisasi Pasar Sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Perusahaan yang Tercatat di Indeks JII70 Periode 2017-2019)

Analisis Pengaruh Profitabilitas Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kapitalisasi Pasar Sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Perusahaan yang Tercatat di Indeks JII70 Periode 2017-2019) 

Achmad Haris Setiawan, Muhammad Nanang Choiruddin

Abstract: This study aims to find the effect of profitability and dividend policy on firm value with market capitalization as a moderating variable for companies listed on the JII70 Index for the 2017-2019 period. This research is a quantitative research type with a sample population of 104 companies listed in the JII70 Index listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2017-2019 period. Furthermore, purposive sampling was carried out to obtain 34 companies that fit the criteria. The results obtained in this study indicate that there is a significant influence between profitability and market capitalization on firm value, only dividend policy has no significant effect on firm value. Meanwhile, the MRA test shows that market capitalization is not able to partially moderate the relationship between profitability and dividend policy on firm value.

Keywords: Profitability, Dividend Policy, Firm Value, Market Capitalization  

 PDF

References

Al-Qur’an Terjemahan & Asbabun Nuzul. (2009). Al Malik. Surakarta.CV AlHanan.
Dewi, L.P.U Kartika & Wirasedana.(2012). Pengaruh Keputusan Investasi,
Keputusan Pendanaan, Kebijakan Deviden dan Tingkat Inflasi Terhadap Nilai Perusahaaan. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udatayana 23(2), 813-841.
Fuad, Munir. (2006). Pengantar Bisnis. Jakarta; PT Gramedia Utama.
Ghozali, I (2012) Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Harrison Jr, W, T., Hongren, C,T Thomas,C, W & Suwardy. T. (2011). Akuntansi Keuangan Internasional Edisi 8 Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Hermuningsih, S., & Wardani, D. K. (2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Malaysia dan Bursa Efek Indonesia. Jurnal Siasat Bisnis, 13(2).
Murhadi.W.R. (2013). Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta: Salemba Empat.
Putra, A. N. D. A., & Lestari, P. V. (2016). Pengaruh Kebijakan Deviden, Likuiditas, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan. E-Jurnal Manajemen Unud, (7), 4070.
Rifqiawan, R. A. (2015). Pengaruh Profitabilitas dan Kapitalisasi Pasar terhadap Nilai Emiten Jakarta Islamic Index. Economica: Jurnal Ekonomi Islam, 6(2), 21-36.
Rochmah, S. A., & Fitria, A. (2017). Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai
perusahaan: kebijakan dividen sebagai variabel moderating. Jurnal Ilmu
dan Riset Akuntansi (JIRA), 6(3).
Putra, A. N. D. A., & Lestari, P. V. (2016). Pengaruh Kebijakan Deviden, Likuiditas, Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan. E-Jurnal Manajemen Unud, (7), 4070.
Ulfa, R., & Asyik, N. F. (2018). Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi (JIRA), 7(10).
Weston & Copeland (1997). Manajemen Keuangan Jilid II. Jakarta :Binarupa Aksara.
www.idx.co.id diakses Oktober 2020. 
 
Sumber : http://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/bisei/article/view/1571

Jumat, 23 April 2021

Belajar Ilmu Akhlaq

 Belajar Ilmu Akhlaq

(Kitab Ta'lim Muta'alim)


(والعلم وسيلة إلى معرفة: الكبر، والتواضع، والألفة، والعفة، والأسراف، والتقتير، وغيرها)، وكذلك فى سائر الأخلاق نحو الجود، والبخل، والجبن، والجراءة. فإن الكبر، والبخل، والجبن، والإسراف حرام، ولايمكن التحرز عنها إلا بعلمها، وعلم ما يضادها، فيفترض على كل إنسان علمها.

Setiap orang islam juga wajib mengetahui/mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah diri, congkak, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil terlalu hemat dan sebagainya. Sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu orang islam wajib mengetahuinya.

وقد صنف السيد الإمام الأجل الأستاذ الشهيد ناصر الدين أبو القاسم كتابا فى الأخلاق ونعم ما صنف، فيجب على كل مسلم حفظها.

Asy-Syahid Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut sangat bermutu, dan perlu dibaca. Karena setiap orang wajib memelihara akhlaknya.

WAllahu A'lam Bishowab

Kamis, 22 April 2021

Keutamaan Ilmu

Keutamaan Ilmu.

(Kitab Ta'lim Muta'alim)


وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.

Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan.

وبه أظهر الله تعالى فضل آدم عليه السلام على الملائكة، وأمرهم بالسجود له.

Allah Ta’ala mengangkat derajat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat di perintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as.

وإنما شرف العلم بكونه وسيلة الى البر والتقوى، الذى يستحق بها المرء الكرامة عند الله، والسعادة والأبدية، كما قيل لمحمد بن الحسن رحمة الله عليهما شعرا:
تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه            وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد
وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة            من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد
تـفـقـه فإن الـفــقـه أفــضـل قائـد            الى الــبر والتـقـوى وأعـدل قـاصـد
هو العلم الهادى الى سنن الهدى             هو الحصن ينجى من جميع الشدائد
فـإن فـقيــهـا واحــدا مــتـورعــا            أشـد عـلى الشـيطـان من ألـف عابد

Ilmu itu sangat penting karena itu sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya : “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.”

Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajarai. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.

WAllahu A'lam Bishowab

Rabu, 21 April 2021

PENGERTIAN ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA, Kewajiban Belajar.

Kitab Ta'lim Muta'alim

Kewajiban Belajar.


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Rasulullah saw bersabda : “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال

Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata,“Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.

ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة،

Oleh karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan shalat dengan sempurna.

ويجب عليه بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.

Setiap orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.

قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات.

Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.

وكذلك فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه. وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.

Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.


WaAllahu A'lam Bishowab.

Rabu, 09 September 2020

DEVELOPMENT STRATEGY OF SYARIAH BEACH TOURISM IN BANYUWANGI, EAST JAVA

DEVELOPMENT STRATEGY OF SYARIAH BEACH TOURISM IN BANYUWANGI, EAST JAVA

Zaim Mukaffi, Syahirul Alim, M. Nanang Choiruddin

Abstract

This study aims to determine the role of 3 (three) main actors in the development of Sharia tourism (government, managers, academics) and Analyze the development strategy of Sharia beach tourism at the Santen island of Banyuwangi Regency. This research uses a qualitative approach and descriptive approach. Data collection methods use interviews, questionnaires and documentation. While the data analysis method uses descriptive and qualitative methods with SWOT analysis technique steps. The result shows that the role of three actors already contributes to the development of coastal tourism Sharia in Santen Island Banyuwangi though not maximized. Meanwhile, the analysis using techniques SWOT analysis indicates the index position on the analysis of internal factors + 0,691 and the external position index of +0,593. The SWOT diagram shows the position of Quadrant I, which is utilizes the maximum power to get and seize opportunities.

Sharia Tourism, SWOT, Strategy & Development

References

Bappeda Kabupaten Banyuwangi (2017). Menggerakkan Pembangunan Daerah Melalui Peningkatan Pengelolaan Keuangan Daerah, Reformasi Birokrasi dan Ecotourism. Disampaikan Pada Bimbingan Teknis Eksekutif Pengelolaan Keuangan Daerah. www.bappeda.go.id.

Battour, M., Battor, MM, dan Ismail MN. (2012). The Mediating Role of Tourist Statisfaction: A Study of Muslim Tourists in Malaysia. Journal of Travel and Tourism Marketing. 29(3): 279-297.

Battour, M, dan Ismail, MN. (2016). Halal Tourism: Concepts, Practises, Challenges and Future. Tourism Management Perspective. 19: 150-154

Battour, M., Ismail, MN, dan Battor, M. (2010). Toward a Halal Tourism Market. Tourism Analysis. 15(4): 461-470.

Bhuiyan, MAH., Siwar, C., Ismail, SM, dan Islam, R. Potentials of Islamic Tourism: A Case Study of Malaysia on East Coast Economic Region. Australian Journal of Basic and Applied Sciences. 5(6): 1333-1340.

David, Fred R. (1998)Strategic Management, Philippines: Prentice Hall,.

El-Gohary, H. 2016. Halal Tourism, is it Really Halal?. Tourism Management Perspective. 19: 124-130

Hamdan, H., Issa, ZM., Abu, N, dan Jusoff, K. (2013). Purchasing Decisions among Muslim Consumers of Processed Halal Food Products. Journal of Food Products Marketing. 19(1): 54-61.

Hamzah, Maulana. M., & Yudiana, Yudi. (2015, Februari 9). Analisis Komparatif Potensi Industri Halal dalam Wisata Syariah dengan Konvensional.

Han, H., Al-Ansi, A., Olya, HGT, dan Kim, W.(2018). Exploring Halal-Friendly Destination Attributes in South Korea: Perceptions and Behaviors of Muslim Travelers toward a Non-Muslim Destination. Tourism Management. 71: 151-164.

Hernanda, Dedy Wahyu (2017). Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Pengembangan Wisata pantai syariah (Halal Tourism) Di Pulau Santen Banyuwangi. Prosiding Seminar dan Call For Paper 20-21 Oktober 2017, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sidoarjo – Indonesia.

Jafari, J, dan Scott, N. (2014). Muslim World and its Tourism. Annals of Tourism Research. 44: 1-19

Kemenpar. (2012, Desember 20). Kemenparekraf Promosikan Indonesia Sebagai Destinasi Pariwisata Syariah Dunia. http://www.kemenpar.go.id: http://www.kemenpar.go.id/asp/detil.asp?c=16&id=2042.

Mohsin, A., Ramli, N, dan Alkhulayfi, BA. (2016). Halal Tourism: Emerging Opportunities. Tourism Management Perspective. 19: 137-143.

Puspita, M. Indra Dewa & Sunarti. (2018). ANALISIS PENGEMBANGAN PULAU SANTEN DENGAN KONSEP WISATA PANTAI SYARIAH (Studi Pada Pulau Santen/Pantai Syariah Banyuwangi). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 55 No. 1 Februari 2018.

Rahman, RA., Rezei, G., Mohamed, Z., Shamsudin, MN, dan Sharifuddin, J.(2013). Malaysia as Global Halal hub: OIC Food Manufacturers’ Perspective. Journal of International Food and Agribusiness Marketing. 25: 154-166.

Rangkuti, Freddy, (2009), Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Edisi Keenam Belas, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Samori, Z., Md Salleh, NZ, dan Khalid, MM. (2016). Current Trends on Halal Tourism: Cases on Selected Asian Countries. Tourism Management Perspective. 19: 131-136.

Satriana, Eka Dewi & Faridah, Hayyun Durrotul. (2018). HALAL TOURISM: DEVELOPMENT, CHANCE AND CHALLENGE. Journal of Halal Product and Research (JHPR) Vol. 01 No.02, Mei-November 2018

Syahid, Ahmad Rosyidi. (2016). Pariwisata Halal : Pengertian, Prinsip dan Prospeknya. https://studipariwisata.com/referensi/pariwisata-Halal/

Sofyan, Riyanto. (2012). Prospek Bisnis Pariwisata Syariah. Jakarta: Republika

Susanti, Nawal Ika. (2018). Respon Masyarakat Terhadap Pantai Syariah Pulau Santen di Kelurahan Karangrejo Banyuwangi. Jurnal Istiqro: Jurnal Hukum Islam, Ekonomi dan Bisnis Vol.4 / No.1: 18-31, Januari 2018.

UU no 10 tahun 2009. Pengertian,Asas,Tujuan dari Wisata.

Yusof, SM, dan Shutto, N. (2014). The Development of Halal Food Market in Japan: An Exploratory Study. Procedia-Social and Behavioral Sciences. 121: 253-261.


Sumber : http://ejurnal.binawakya.or.id/index.php/MBI/article/view/700