Seminar Nasional Pasar Modal Syariah

Pemberian Cindramata Kepada Narasumber dari MUI Malang Bapak Drs. KH. Chamzawi M.HI.

Kuliah Tamu Manajemen

Bersama pimpinan manajemen dan pemateri kuliah tamu dengan tema menumbuhkan jiwa wirausaha yang kreatif, inovatif dan mandiri.

Ekonomi Kreatif

Narasumber dalam rangka Turba PCNU Kota Malang Tematik terkait ekonomi kreatif di MWC NU Lowokwaru Ranting Dinoyo

Seminar Nasional

Narasumber Seminar Nasional Economic Outlook, Prospects And Future Of The Indonesian Economy,(Bersama Ketua Komisi C DPRD tk 1 Jatim)di FE UNUSIDA Sidoarjo.

Penyuluhan UMKM

Narasumber Penyuluhan terkait administrasi sederhana UMKM di Desa Sutojayan Kabupaten Malang.

Rabu, 15 Juli 2026

Catatan Rangkuman 2, Pendidikan Berbasis Capaian (Outcome-Based Education atau OBE)

Pendidikan Berbasis Capaian (Outcome-Based Education atau OBE) merupakan pendekatan kurikulum yang menempatkan capaian pembelajaran lulusan (Learning Outcomes) sebagai penentu utama dalam seluruh proses perancangan pendidikan. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada konten atau materi, OBE mewajibkan institusi untuk menetapkan Learning Outcomes (LO) terlebih dahulu, kemudian merancang mundur (design-down) metode pembelajaran dan asesmen yang selaras untuk memastikan mahasiswa mencapai target kompetensi tersebut.  

Dalam implementasi OBE, proses Assurance of Learning (AoL) menjadi siklus berkelanjutan yang mencakup empat tahap yaitu perencanaan (PLAN), penilaian (ASSESS), analisis (ANALYZE), dan perbaikan (IMPROVE). Tahap perencanaan melibatkan penyelarasan misi dengan Competency Goals (CG) dan LO, sementara tahap penilaian harus menggunakan instrumen yang tepat. Penekanan utama diberikan pada penggunaan direct assessment—seperti rubrik presentasi atau proyek akhir—sebagai bukti konkret capaian mahasiswa, alih-alih sekadar mengandalkan survei kepuasan atau opini eksternal.  

Instrumen penilaian yang krusial dalam sistem OBE adalah rubrik analitik, yang berfungsi untuk menjamin konsistensi pengukuran dan komparabilitas data antar dosen maupun kelas. Rubrik yang efektif harus mencakup kriteria atau dimensi yang jelas, deskriptor perilaku yang dapat diamati (behaviorally anchored), skala level yang tidak ambigu, serta bobot jika diperlukan. Penggunaan rubrik analitik memungkinkan diagnosis yang lebih presisi, sehingga ketika target capaian tidak tercapai, program dapat mengidentifikasi dimensi spesifik yang bermasalah untuk ditindaklanjuti.  

Tahap analisis data menuntut transformasi dari sekadar mengumpulkan data (data-rich) menjadi menghasilkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti (insight-rich). Dalam melakukan analisis, program studi disarankan untuk fokus pada LO secara individual alih-alih hanya menggunakan rata-rata sederhana, serta melakukan diagnostik terhadap akar masalah melalui pertanyaan sistematis, seperti apakah masalah capaian konsisten terjadi di seluruh kelas atau hanya pada bagian tertentu. Visualisasi data yang komunikatif, seperti radar chart atau bar chart tren, sangat membantu dalam menyajikan profil kekuatan dan kelemahan lulusan secara intuitif.  

Siklus OBE diakhiri dengan langkah konkret perbaikan dan follow-up yang didokumentasikan dalam laporan AoL. Laporan yang kuat tidak hanya melaporkan hasil, tetapi menyajikan rantai kausalitas yang jelas—meliputi hasil, interpretasi makna, diagnosis akar masalah, tindakan perbaikan yang spesifik, serta mekanisme verifikasi untuk mengukur efektivitas intervensi di masa mendatang. Dengan sistem yang jujur dalam memproses data dan berfokus pada perbaikan berkelanjutan, OBE menjadi sistem yang hidup untuk menciptakan dampak yang bermakna, bukan sekadar dokumen administratif.

Catatan atau ringkasan saat mengikuti forum di Balikpapan Kalimantan Timur, pada Hari kamis 16 Juli 2026, dalam forum Workshop Kurikulum yang diberikan Oleh Pemateri kedua dari UNAIR Prof. Unggul dari Universitas Airlangga Surabaya, yang sangat menarik semoga bermanfaat

Catatan Ringkasan 1 Workshop Kurikulum OBE, Balikpapan Kalimantan Timur

Outcome-Based Education (OBE) adalah pendekatan pendidikan yang berfokus secara konkret dan terukur pada pencapaian hasil belajar mahasiswa, di mana seluruh proses pembelajaran dirancang secara sistematis berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai, bukan sekadar penyampaian materi. Dalam model ini, mahasiswa menempati posisi sebagai pusat pembelajaran (student-centered), sementara dosen berperan sebagai fasilitator yang merancang pengalaman belajar bermakna untuk memastikan mahasiswa memiliki kemampuan, pengetahuan, dan sikap yang relevan dengan kebutuhan dunia nyata serta profesi masa depan.

Terdapat tiga prinsip utama dalam OBE yang menjadi fondasi dasar, yaitu fokus pada outcome (capaian), penggunaan backward design (desain mundur), serta pendekatan student-centered learning. Implementasi OBE didukung oleh konsep Constructive Alignment yang menetapkan keselarasan terstruktur antara tiga elemen akademik penting, yakni Learning Outcomes (CPL/CPMK) sebagai standar luaran yang ditetapkan, aktivitas pembelajaran yang interaktif, serta asesmen performa yang mengukur secara akurat kecocokan kompetensi nyata dengan capaian pembelajaran yang diinginkan.

Siklus pengembangan kurikulum dalam sistem OBE dijalankan melalui tahapan yang komprehensif, mulai dari pendefinisian profil lulusan dan Program Educational Objectives (PEO) berdasarkan visi-misi universitas, perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), hingga pemetaan mata kuliah dan Continuous Quality Improvement (CQI). Pemetaan kurikulum sendiri berfungsi sebagai alat bantu visual untuk mengaitkan hasil pembelajaran dengan elemen kurikulum, yang memungkinkan institusi untuk melihat apakah aktivitas pembelajaran sudah mendukung hasil yang diharapkan melalui indikator seperti diperkenalkan (I), dilatih (D), atau dikuasai (M).

Pentingnya Assurance of Learning (AoL) dalam OBE adalah sebagai proses sistematis untuk memastikan akuntabilitas kompetensi mahasiswa serta mengidentifikasi kesenjangan kompetensi (competency gaps). Proses asesmen ini dapat dilakukan melalui metode langsung, seperti ujian atau proyek, maupun metode tidak langsung, seperti survei dan diskusi kelompok, yang hasilnya akan digunakan dalam fase Closing the Loop untuk mengubah bukti-bukti pembelajaran menjadi rencana aksi perbaikan kurikulum, pedagogi, atau penguatan sumber daya.

Meskipun penerapan OBE menawarkan manfaat berupa kurikulum yang terarah dan lulusan yang kompeten, terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti perubahan mindset dari teacher-centered ke student-centered, kesulitan dalam penyusunan rubrik penilaian yang valid, serta kebutuhan akan sistem dokumentasi portofolio yang terstruktur. Untuk mengatasi tantangan tersebut, institusi dapat melakukan workshop dan pelatihan intensif bagi dosen, kolaborasi dalam tim untuk merancang instrumen penilaian, serta pemanfaatan platform digital agar proses evaluasi dan akreditasi berjalan lebih efektif dan efisien.

Catatan atau ringkasan saat mengikuti forum di Balikpapan Kalimantan Timur, pada Hari kamis 16 Juli 2026, dalam forum Workshop Kurikulum yang diberikan Oleh Pemateri pertama dari UI Prof. Dony dari Universitas Indonesia, yang sangat menarik semoga bermanfaat